Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Desember 2013

Cerpen Cinta Sedih PENYESALAN TERDALAM

PENYESALAN TERDALAM
Oleh: farah oktaviani putri

Hari itu hari yang kunantikan selama 3 tahun, mungkin bukan hanya penantianku tapi banyak siswa kelas 3.

Dengan perasaan takut campur cemas aku membaca pengumuman ternyata aku termasuk dalam daftar panjang siswa yang lulus ujian. bahagia namun disisi lain aku tak ingin bermimpi untuk meneruskan ke perguruan tinggi karena aku tau itu tak akan terjadi. Berita bahagia itu aku sampaikan pada orang yang selalu mendoakan aku yaitu Mama. Dengan mata berkaca-kaca mama mengingatkan aku.

Cerpen Cinta Sedih
“Ingat nak, semua belum berakhir masih ada lagi setelah ini ” ucapnya.

Iya, mama menginginkanku masuk di Institut Pemerintah dalam Negeri. Sebenarnya bukan cita-cita aku jadi pegawai negeri apalagi berhayal bersekolah di IPDN. Tapi tak apalah semua untuk mama.

Terdengar bunyi Hp ku pesan singkat dari pacarku, panggil saja dia cipta.

“Te gimana hasilnya?” tanyanya.

“Alhamdulillah Om, Aku lulus kamu sendiri gimana om?” balasku.

Lama sekali aku tunggu namun tak kunjung ada balasan. Aku terbangun oleh suara Hp tarnyata telfon dari cipta.

“assalamu’alaikum, te maaf tadi aku ketiduran” terdengar suara dari seberang
“ya om, gak apa-apa” jawabku.

Kita berbicara seperti biasa namun pada akhir pembicaraan,cipta mengutarakan keinginannya untuk mengakhiri hubungan kita.

“te, lebih baik kita sampai disini, jujur rasaku semakin hari, semakin berkurang dan aku gak bisa kalo nantinya kita pacaran jarak jauh”, ucapnya.

Dengan rasa menyesal, akupun mengiyakannya,walau sebenarnya aku tak menginginkan ini terjadi.

Aku memulai hidup bari tanpa Cipta, ku buka lembaran baru, membuka hati ,mencoba melupakannya dan fokus dengan tes-tes yang akan aku hadapi nantinya.

Tak kusangka dan tak pernah ku duga aku pacaran dengan teman kelasku di waktu SMA dulu, sebut saja dia Van. Kita satu kelas selama dua tahun. Tetapi kita tak pernah dekat, tegur sapa saja kita jarang.

Saat itu aku bingung mencari baju yang akan ku pakai untuk tes pertama. Aku mengirim pesan singkat pada teman-teman.

“Ada yang mau mengantarku mancari kemeja ?” ternyata Cuma Van yang membalas pesanku tak lama kemudian ia datang menjemputku.

Karena seringnya kebersamaan kita seringkali temen-temen mengejekku.

”udah sama beat aja, pelan tapi pasti”. Aku tak merespon ejekan itu karena hatiku masih untuk Cipta. Aku pikir Van pun mengira itu hanyalah sebuah ejekan ternyata dia menyimpan rasa padaku. Kita sering nongkrong bareng, jalan bareng dan akhirnya dia menyatakan perasaannya padaku.

Untuk pertama kali dan kedua kalinya aku menolaknya, karena saat itu aku masih sulit untuk menerima orang lain. Untuk ketiga kalinya aku menerimanya, singkat cerita kita pacaran.

Awalnya terasa hampa sering kali aku masih teringat Cipta mantan kekasihku. Van berusaha meyakinkanku, membuatku agar bisa membalas perasaannya. Van selalu mengalah dan karena kesabarannya akupun mulai menyayanginya. Hingga akhirnya aku sangat menyayanginya, tak sedikitpun waktu terbuang sia-sia, setiap hari kami selalu menghabiskan waktu berdua bahkan hampir setiap waktu. Namun semua itu tak lama ku rasakan, kami mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Van dengan universitasnya dan aku dengan tesku.

Untuk tes pertama, kedua dan ketiga aku lolos seleksi cukuplah untuk membayar rasa lelahku berlatih setiap hari. Namun perjuanganku berakhir sampai pada tes keempat, aku harus menelan pahitnya kegagalan. Aku sangat terpukul dan aku sangat terpuruk dengan kegagalan itu, aku mencoba menegarkan hatiku, tetap tersenyum seolah-olah tak terjadi apa-apa. Van pun tak tahu bahwa hampir setiap malam aku menangis menyesali kegagalan itu. Pukulan berat dan sulit aku menerima.

Aku menyembunyikan kekecewaanku terutama di depan mama, memang mama tak menunjukkan kekecewaannya di depanku, tapi aku sangat yakin mama kecewa karena aku tak bisa menjadi yang seperti mama inginkan. Hubunganku dengan Van tak lagi harmonis seperti dulu kita sering bertengkar tanpa ada sebab. Itu semua karena rasa minder yang menutupi mata hatiku. Sejak Van masuk kuliah rasa cemburu dan rasa takut kehilangan itu merasuki pikiranku. Apalagi Van pernah tak jujur, saat itu Van berangkat ke kampus, memang Van pamit tapi Van tak bilang kalo dia akan bersama teman ceweknya, sejak kejadian itu aku sulit mempercayainya. Aku sering berburuk sangka kalo Van tak memberi kabar. Hari-hari ku lalui namun tak sebahagia pertama kali pacaran.
Hari itu menjadi hari kelabu, diselimuti rasa cemburu yang berlebihan, minder, takut disakiti. Aku memintanya untuk mengakhiri hubungan kita. Awalnya Van tak mau tapi pada akhirnya Van mengiyakan. Terasa sekali aku sangat kehilangan, kesepian tanpa kehadiran Van. Akupun memintanya untuk kembali. Van memenuhi permintaanku tapi dia berubah dia sangat berubah, tak seperti dulu lagi, dingin dan cuek tak peduli lagi apa yang terjadi padaku.

Hari ini aku berulang tahun, seakan lupa apa yang sedang terjadi di antara kita. Van membuatku bahagia sangat bahagia, aku seperti ratu tapi hanya semalam. Aku rasakan lagi kasih sayangnya dan cinta yang dulu pernah ada buatku. Ku buka kado darinya indah dan buat aku senang, namun di sisi lain aku harus menangis karena di dalam ada sepucuk surat Van mengatakan bahwa ia tak bisa lagi bersamaku, aku pura-pura tak tau, karena aku masih ingin bersamanya. Aku bertahan dengan keadaan ini sampai di hari ulang tahunnya. Aku ingin membuatnya bahagia meski saat itu Van tak lagi menyayangiku. Aku berusaha berikan yang terbaik untuknya. Hari yang di nanti pun tiba aku menyiapkannya jauh sebelumnya karena aku ingin terlihat semuanya sempurna. Malam itu aku ke rumahnya, aku tidak sendiri aku di temani sahabat Van panggil saja dia Di. Ternyata Van sedang di luar rumah, Di menyuruhku untuk menunggunya, sejam setengah aku menunggu Van pulang. Terdengar bunyi motor dari kejauhan. Kini tiba saatnya aku merelakan hubungan ini berahir, aku berpamitan pulang dan saat bersalaman dengan ibunya tak kuasa aku menahan air mata yang ingin mengalir. Aku berusaha tersenyum. Sesampainya di rumah semua perasaan sedihku tangisku aku curahkan, sangat berat melepaskannya, hidupku semakin tak berarti dan aku semakin terpuruk dengan keadaan. Pelan-pelan kucoba bangkit lagi namun sampai saat ini aku masih menunggunya kembali. Aku sangat menyayanginya.


my profile
nama : farah oktaviani putri
nama facebook : farah oktaviani putri
ReadFull Article ..

Minggu, 08 Desember 2013

Cerpen Cinta Unforgettable

Kayaknya udah lama yah, ga nulis cerpen? Habisnya rata-rata cerpen yang masuk ga ada yang bisa langsung dipublish. Tahu kenapa? Penggunaan ejaan dan tanda baca yang semrawut. Setelah titik dan koma ga pake spasi, tidak menggunakan hurup besar, banyak kata yang disingkat, dll. Intinya menyebabkan saya harus mengedit selama +/- 1,5 jam untuk satu cerpen. T_T

Okelah, untuk mengobati rasa kangen sobat gen22 sekalian ini ada sebuah cerpen cinta yang dikirim oleh Aprilia Puspa Azhara. Kita simak saja.

UNFORGETTABLE

Aku suka padanya , karna terlalu lama aku memikirkannya , sampai2 aku tak mampu melupakannya. Pertemuanku dengannya berawal saat aku mengikuti sebuah ekstrakulikuler di kampus baruku. Tak ada sedikit pun niat untuk mencari orang special dalam organisasi itu, aku hanya ingin mencari keseimbangan antara kuliah dan kehidupan social.

Hari-hari terus berlanjut , ku nikmati hari-hariku di tempat itu , ku jalani semua kewajiban yang harus ku lakukan sebagai calon anggota baru.Kalau diingat-ingat hanya beberapa kali saja , aku melihat sosokmu.


Niat itu pun lambat laun berubah , aku menyukai salah seorang seniorku , sebut saja namanya Dion. Meski ku tahu Dion memiliki kekasih , aku tetap menyukainya.

Tiba saat penerimaan anggota baru , dan kejadian paling dan paling ku takuti terjadi. Aku nggak bisa ikut acara itu. Dilema yang kurasakan , buah dari keraguanku slama ini. Acara itu berlangsung slama empat hari,semua telah ku persiapkan dan pada akhirnya aku benar2 nggak bisa pergi.

Ujian praktek, ujian praktek yang telah kupersiapkan jauh2 hari ternyata harus ditampilkan pada hari selasa, itu artinya jika aku tetap pergi aku tak bisa latihan, dan besar kemungkinan hasilnya nggak maksimal. Kepalaku serasa mau pecah memikirkan hal itu, aku harus pergi keacara itu tapi aku juga harus memberikan penampilan yang memuaskan.

Akhirnya setelah diskusi yang cukup panjang dengan teman2ku , ku putuskan aku tidak pergi ke acara itu, sedih memang tapi aku sadar suatu saat nanti aku memang harus memilih. Ku baca pesan mereka menanyakan kabarku, aku dimana sekrang hmmm ,,, mereka tak pernah tahu smakin mereka menanyakan hal itu smakin hatiku terluka, karena aku mulai menyayangi keluarga baruku.

Hingga pada akhirnya , penampilan itu pun terlaksana , seperti yang kuharapkan tepuk tangan yang meriah itu diberikan untukku dan teman2ku , haru rasanya jika mengingat pengorbanan yang ku lakukan.

Aku mencari kegiatan untuk melengkapi hidupku , namun aku tak sadar kalau aku sudah terlalu jauh meninggalkan mereka , yaaaahhh … mereka , mereka teman2ku yang sudah seperti saudaraku.

Aku sudah tak pernah lagi datang ke tempat itu,hmmm ternyata mereka mencariku,,,aku terharu , mereka menanyakan kabarku dan merindukanku…ingin rasanya aku teriak dan berlari ke tempat itu,tempat yang sangat kurindukan.

Tak kuduga ,aku bertemu  salah seorang dari mereka , namanya Zakhy ,,, rasa kangenku sedikit terobati , kita saling bertukar informasi tentang banyak hal , terutama kegiatan itu.Selain seniorku , ternyata dia juga kakaknya Dion ,,, meskipun nggak ketemu Dion , setidaknya liat kakaknya,,,hiiiiihhiiii

Waktu  terus berputar,lambat laun aku pun mulai melupakan mereka … hari-hariku ku isi dengan aktifitas kuliah dan bermain bersama teman2ku , kita makan2,bakar jagung, jalan ke tempat2 wisata , banyak hal yang ku lalui bersama mereka, berkat mereka juga aku tak lagi memikirkan masalah itu.

Suatu hari , ada pesan yang masuk ke ponselku , pesan itu dari Vira , seorang teman yang ku kenal di organisasi itu.Kita saling bertukar kabar , dia pun ternyata merindukanku. Kabar yang mengejutkan adalah ternyata dia juga suka sama Dion,,, hatiku langsung berdetak lebih cepat dari biasanya , lebih cepat lagi saat dia bertanya “kalau kamu suka siapa ???” ingin aku mengatakan yang sebenarnya bahwa aku pun menyukai Dion , namun entah mengapa hal itu tak kulakukan , aku malah menyebut satu nama yang asing ‘aku suka kak Joeshua’ , dalam hati aku bingung sendiri , kenapa harus kakak itu , benar aku menyukainya atau aku hanya takut kalau hati Vira terluka kalau tahu yang sebenarnya ???

Cerita itu makin berlanjut , Vira menanyakan banyak hal tentang kak joe (nama panggilan akrabnya…) , tak ada yang ku tahu tentangnya , beruntunglah ada facebook , informasi yang kubutuhkan semuanya ku dapat di sana , sehingga dengan mudah ku jawab semua pertanyaan Vira.

Perlahan aku mulai memikirkan dia, terus dan terus kupikirkan hingga aku tak mampu melupakannya. Vira yang kusuruh menanyakan keadaannya, tapi hal itu tak membuat hatiku lega. Akhirnya kuberanikan diri,mengirim pesan untuknya, awalnya aku kecewa karena dia tak membalas pesanku, aku pikir,,,ya sudahlah , ini juga sudah malam ,mungkin dia sudah tidur.

Ternyata aku benar, pagi2 aku dapat balasan pesan darinya ”maaf ini siapa???” hmmm rasanya aku tak percaya , karena aku buru-buru mau ke kampus , dengan senang hati pesannya ku abaikan …;-)

Pesan darinya muncul lagi di ponselku saat mata kuliah sedang berlangsung, aku cekikikan sendiri ,,, senang rasanya membaca nama itu, nama orang yang kurindukan namun aku juga kecewa,apa yang akan dia lakukan kalau dia tahu ini aku. Kubalas saja pesan itu , dengan santai. Hmmmm dia mengingatku dan dia baik. Bahagia rasanya ber sms ria seperti itu.

Tak ku hiraukan mata kuliah yang sedang berlangsung, aku masih asyik membalas pesan-pesannya. Aku baru tahu, dia sekarang ada di Bandung. Waktu itu hari jum’at, hmmm jum’at terindah yang pernah ku alami.

Entah dia suka atau tidak , aku sering mengiriminya ucapan selamat pagi maupun selamat malam.Aku tak berharap dia membalas pesanku , tapi dia membalasnya. Aku senang dia pun sering mengirimiku pesan.
Mungkin setiap detik , hanya dia yang ada dipikiranku, wajahnya, senyumnya, bahkan suaranya, masih terus terngiang ditelingaku.Aku sendiri bingung , kenapa seperti itu , semakin ku cari jawabannya semakin aku tak mengerti.

Hari senin , ya hari senin mungkin jadi hari yang paling ku tunggu sepanjang minggu. Jadwal mata kuliahku hari senin ruanganku berdekatan dengan fakultasnya. Aku berharap barang sekali akan bertemu dia di sana. Saat istirahat , aku melongok ke tempatnya , hmmm kecewa karena aku terlalu berharap melihatnya.

Sakit rasanya saat ku baca status FBnya “melihat senyumnya saja sudah buatku tenang dan bahagia” , aku terus bertanya , ‘siapa gadis itu ? gadis yang bisa membuatnya tenang dan bahagia.Mungkinkah aku ? aku pikir itu mustahil , tak mungkin aku. Aku berharap bertemu gadis itu dan bicara padanya “titip dia ya,,, jaga dia baik2, aku tak mau dia terluka”. ;-)

Rasa sakit itu pun bertambah , dengan kenyataan bahwa kita memang smakin jauh. Aku tak lagi ada di organisasi itu , tak banyak kenangan yang ku miliki dengannya sehingga aku tak tahu apa yang harus kupertahankan , aku tak berada di satu lembaga pun di kampus , kesibukan kuliahku sudah cukup menyita waktuku.

Aku berfikir , andai bisa kulupakan dia toh kita kita sudah jauh , kusibukkan diriku dengan berbagai hal , kuhabiskan  waktu luangku bersama teman-temanku , saat bersama mereka , pikiranku tentangnya hampir tidak ada namun saat kusendiri , ternyata aku masih memikirkannya ,bayangannya seperti hantu , saat makan , nonton tv , mengerjakan tugas kuliah bahkan saat di jalan pun hanya dia yang ada dipikiranku.

Aku wanita biasa , aku pun sering menangis. Menangis karena kerinduanku padanya. Ku pasrahkan diriku pada Tuhan. Aku yakin Tuhan tahu , yang terbaik untuk umatnya. Setiap hari terasa hampa, kosong, aku merasa sendiri di tengah keramaian. Berat rasanya, melewati setiap hari, tanpa dirinya.

Doa-doaku mulai terjawab, aku seperti menemukan oasis di gurun pasir. Pikiranku mulai cernih, aku berfikir tentang masa depan, tak lagi berfikir kenapa begini dan kenapa begitu. Lelah ku mengejarmu, kau berlari terlalu kencang. Aku berhenti dan kini, bahagia yang ku rasa. Mencintaimu bak mencintai actor terkenal, dengan wajah bersahajamu,kau terbang kesana kemari , memberikan harapan pada setiap orang, kemudian pergi tanpa memikirkan perasaan orang yang kau tinggalkan. Melihatmu semakin sukses dengan kariermu, aku hanya berdoa “semoga kau bahagia”. Mungkin aku mulai mengerti kalau cinta tak harus memiliki. Mengenalmu saja sudah buatku senang, menjadi temanmu aku merasa bahagia, jika suatu saat kita bertemu dan berjodoh, hidupku akan lebih sempurna….;-)

by aprilia puspa azhara
     FB: April D. Rainbow
ReadFull Article ..